
Natal adalah harapan. Makna Natal inilah yang membawa langkah kaki Maryati (37) untuk menuju gereja dan beribadah menyambut Natal pada Kamis (24/12) petang. Status sebagai pengamen sama sekali tidak menghalangi niat janda beranak lima ini untuk merayakan Natal bersama umat Kristiani lainnya di Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Jatiwaringin.
Agar bisa beribadah pada malam Natal, Kamis lalu, Maryati yang akrab disapa Yati mengatur waktu mengamennya. Cukup dua jam saja, yakni pukul 13.00-15.00. Hasil mengamen hari itu, yang hanya sebesar Rp 20.000, kemudian dibawa untuk persembahan Natal.
”Saya hanya mengamen sebentar karena takut terlambat ke gereja,” ujar Yati yang ditemui sekitar pukul 22.00 saat baru pulang dari gereja.
Yati tinggal di sebuah gubuk yang berada di tengah-tengah makam atau kuburan China di Tempat Pemakaman Umum Kebon Nanas, Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur.
Malam itu, di gubuk berukuran 2,5 meter x 3,5 meter, Yati menuturkan, tahun ini merupakan tahun kedua ia merayakan Natal bersama putrinya, Martha Aura Agustina (5) dan Esther Natalia (1,5), tanpa suaminya.
Ditanya apa permohonannya pada malam Natal, Yati menjawab singkat, ”Saya berdoa agar anak-anak saya menjadi anak yang sehat, kuat, dan bisa pintar.”
Ia berharap suatu saat mendapat tempat tinggal yang layak bagi anak-anaknya, paling tidak memiliki tempat berteduh yang tidak bocor pada saat hujan.
Malam itu gubuk yang ditempati Yati hanya diterangi cahaya lampu neon 10 watt. Ada tempat tidur di ruangan yang sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu dan ruang makan.
Di meja kecil di samping tempat tidur ada penanak nasi dan kipas angin kecil. Baju-baju bergelantungan dan ditumpuk di dalam rak-rak kayu.
Di pojok kamar yang merangkap ruang tamu dan ruang makan terpampang sebuah tripleks dengan tulisan, ”Ya Tuhan, lindungilah rumah ini baik siang maupun malam”.
Di atas kalimat yang ditulis dengan spidol berwarna hitam itu ada gambar salib dan tulisan bukit Golgota. Di tripleks yang sama tertulis nama kelima anaknya, Julio, Anggi, Mega, Martha, dan Esther.
”Itu tulisan almarhum suami saya sebelum meninggal,” ujar Yati seraya memohon maaf karena tidak bisa menyuguhkan makanan karena tidak punya apa-apa.
Di dinding kamar itu juga terpampang fotonya bersama mendiang suaminya.
Di tempat tidur yang berukuran hampir sebesar gubuk tersebut, dua putri Yati, Martha dan Esther, sudah tertidur lelap. ”Tadi sore saya dan anak-anak berangkat ke gereja bersama teman-teman yang tinggal di pemakaman ini,” ujarnya.
Yati menyatakan mereka ke gereja dengan naik angkutan kota—perjalanannya sekitar setengah jam—dan mengikuti kebaktian.
Pulang dari gereja, Yati dan anak-anak langsung mengurung diri di gubuk. Ia mengenang saat suaminya masih hidup. Natal merupakan kegembiraan bersama. Kendati keduanya hanya mengamen, pada saat Natal mereka masih menyempatkan diri berjalan bersama.
Tinggal di bong
Sebelum tinggal di gubuk itu, Yati dan suaminya sempat tinggal di atas sebuah batu makam atau bong. Esther lahir di bong itu. Gubuk yang disebutnya sebagai rumah dibeli Rp 500.000. Setiap bulan ia mengeluarkan Rp 40.000 untuk membayar listrik.
Untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah Martha yang kini duduk di taman kanak-kanak, Yati mengamen mulai pukul 10.00 hingga pukul 18.00. ”Pagi saya mengantar Martha sekolah. Setelah Martha pulang, kami bertiga baru mulai mengamen,” katanya.
Biasanya mereka naik mikrolet ke arah Pondok Gede, lalu mengamen di lampu merah. ”Anak-anak diajak mengamen juga. Yang besar (Martha) ikut jalan kaki, Esther saya gendong,” katanya. Ia mengamen dengan menggunakan alat karaoke yang ia sewa Rp 12.000 per hari.
Sehari Yati bisa mengumpulkan uang Rp 80.000-Rp 100.000. ”Saya ingin anak-anak pintar dan kelak tidak tinggal di atas kuburan lagi,” ujarnya.
Perempuan asal Kuningan, Jawa Barat, ini datang di Jakarta bersama kedua orangtuanya saat usianya 12 tahun. Mereka bekerja sebagai buruh pabrik konfeksi di Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Pada usia 19 tahun, Yati menikah dengan Leo, kemudian mengontrak rumah di Tanjung Priok. Leo pernah bekerja sebagai pelaut, tetapi berhenti dan menjadi kuli serabutan karena sakit-sakitan. Namun, karena sakitnya semakin parah, Leo tak bekerja. Yati kemudian menjadi pengamen dan suaminya menunggu di kolong jembatan layang. Tak sanggup membayar kontrakan, mereka akhirnya terpaksa tinggal di kuburan China tersebut. Tahun lalu suaminya meninggal, lima bulan setelah anak bungsu mereka lahir.
Anak pertama dan kedua, Julio Pratama (17) dan Anggi Indah Sari (14), kini ikut mertuanya di Tanjung Priok, sedangkan anak ketiga, Megawati (7), di sekolahkan kakak iparnya.
Setelah suaminya meninggal, Yati membeli gubuk yang ditinggalinya sekarang seharga Rp 500.000. Hingga kini Yati tetap mengamen agar bisa menghidupi dirinya dan dua anaknya.
Yati memang tidak sendirian menghadapi kemiskinan di kawasan itu. Menurut aktivis lembaga swadaya masyarakat dari Forum Warga Kota Jakarta, Sumiyati, sedikitnya terdapat 82 keluarga yang menghuni kawasan pekuburan tersebut. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pemulung dan pengamen. Mereka menempati kawasan itu setelah tergusur proyek pembangunan tahun 1997.
”Sebelumnya mereka menempati bantaran Kali Cipinang. Saat penggusuran, mereka mendapatkan ganti rugi Rp 150.000. Karena tidak cukup, mereka menempati pemakaman ini,” kata Sumiyati.